Selasa, 13 Maret 2012

| Sadar Diri |

Kalaulah bukan karena sebab adanya kemurahan Allah, niscaya mungkin kita akan lebih banyak berkubang
dalam lumpur dosa ketimbang berkubang dalam lautan amal kebajikan. Karena itu, Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya untuk sadar diri. Bukan karena kehebatan diri kita, lalu kita bisa terbebas dari dosa.
Yang membebaskan kita dari dosa itu, mutlak karena adanya kemurahan Allah atas diri kita.


    Tak ada satu pun manusia yang hidup di dunia ini yang tidak punya dosa. Baik dosa besar ataupun dosa kecil. Tidak peduli apakah dia adalah seorang presiden, raja, sultan, khalifah, tukang becak, kusir andong, menteri, hakim, jaksa, polisi, ulama, pendeta, rohaniawan, bhiksu atau seorang wartawan sekalipun --- mereka semua pasti punya dosa.
Hanya seorang nabi, rasul dan kekasih Allah sajalah yang ‘dijamin’ dan ‘dijaga’ Allah agar tidak bergesekan dengan yang namanya dosa. Diluar dari predikat tersebut, dijamin pasti punya dosa.
     Apalagi bagi kita yang hidup di penghujung akhir zaman ini. Di mana, untuk dapat betul-betul steril atau terbebas dari kontaminasi perbuatan dosa, nyaris menjadi sebuah kemustahilan. Jangankan untuk bisa bebas dari perbuatan dosa, untuk memisahkan mana tindakan kita yang halal dan haram dalam pandangan agama saja, kita acapkali kesulitan. Mana yang halal dan haram, nyaris sudah tak ada batasnya lagi.
     Kalaulah bukan karena sebab adanya kemurahan Allah, niscaya mungkin kita akan lebih banyak berkubang dalam lumpur dosa ketimbang berkubang dalam lautan amal kebajikan. Karena itu, Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya untuk sadar diri. Bukan karena kehebatan diri kita, lalu kita bisa terbebas dari dosa. Yang membebaskan kita dari dosa itu, mutlak karena adanya kemurahan Allah atas diri kita.
    Jika demikian halnya, maka adalah bohong besar kalau sampai ada orang yang mengaku-aku tak punya dosa selama hidupnya. Sebab, mengaku-aku tidak punya dosa saja, dalam perspektif agama, sebetulnya sudah merupakan dosa tersendiri. Dalam surat Al-A’raaf ayat 82, Allah mengingatkan orang-orang yang mengaku tidak punya dosa itu sebagai: “ … orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” Karena itu, Allah kemudian mengultimatum perbuatan manusia yang ‘sok suci’ itu lewat surat An-Najm ayat 32: “ …, maka  janganlah kamu mengatakan dirimu suci!”
      Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa terbebas dari dosa? Pertama, mari kita belajar untuk tidak melakukan sebuah tindakan yang justeru akan menjadi dosa di hadapan Allah. Kedua, mari belajar jujur dengan diri sendiri dan belajar jujur kepada Allah. Kalau memang telah melakukan perbuatan dosa, cepat-cepatlah bertobat. Sebab, Allah tidak mau tahu, apa alasan kita berbuat dosa. Salah tetap salah. Sekali dosa, ya tetap dosa.
       Ketiga, mari belajar untuk tidak menjadi orang yang ‘sok suci’. Sebab, Allah tidak suka pada makhluk yang mengaku-aku tak pernah punya dosa seumur hidupnya. Sebaliknya, Allah justeru sangat senang kepada hamba-Nya, yang ketika tersandung dengan perbuatan dosa, ia segera meminta ampunan-Nya.
      Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Anas ra, bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW berkata: Allah telah berfirman:

Hai putra Adam, sesungguhnya, selama kamu berdoa dan mengharap kepada-Ku, pasti Aku ampunkan bagimu apa yang telah lalu daripadamu, dan tak Aku hiraukan berapa banyak. Hai Putra Adam, andaikan dosamu telah sampai ke langit, kemudian kamu minta ampun kepadaKu, Aku ampunkan bagimu. Hai putra Adam, andaikan kamu datang dengan membawa dosa kepadaKu sepenuh bumi ini, tetapi kamu menghadap kepadaKu dalam hal tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain, niscaya Aku akan memberi engkau ampunan sepenuh bumi itu pula. (HR Attirmidzy).
    
    Sekarang, pertanyaannya, jika Allah telah membuka pintu ampunanNya seluas bumi dan langit, maka mengapa kita masih menunda-nunda waktu untuk segera bertobat? Ayo, mari kita segera bertobat pada-Nya! Mudah-mudahan belum terlambat. ■

| Buruk Sangka |

… mempersangkakan Allah bersikap tidak adil pada diri kita, jelas nanti akan menjadi masalah besar.
Sebab, yang kita prasangkai itu adalah Zat yang justeru telah menciptakan kita dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’.
Wong kepada sesama makhluk saja, Allah tidak membolehkan kita berprasangka buruk. Bagaimana mungkin kok kita sampai berani-beraninya ‘menuduh’
Allah berlaku tidak adil pada diri kita.


    Salah satu perbuatan dosa yang sering kita lakukan, baik dalam posisi sadar atau tanpa sadar adalah, suka berburuk sangka. Tidak saja kepada sesama makhluk, tapi tak jarang kita justeru berburuk sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
   Misalnya, ketika kita sedang tertimpa musibah terkena penyakit menahun atau karena orang yang kita cintai telah dipanggil Allah lebih cepat daripada diri kita. Saat musibah itu muncul, sangat boleh jadi, yang terlintas dalam hati dan pikiran kita saat itu adalah: “Mengapa harus saya yang menanggung beban ini, kok bukan orang lain?”
     Sepintas, memang nampak wajar jika ada orang yang sedang tertimpa musibah berkata seperti itu. Tapi, kalau kita oncek-i (kupas secara lebih mendalam), ungkapan kata hati kita yang demikian itu tadi, baik secara tersirat maupun tersurat,  sebetulnya mengandung makna sebuah sikap ‘penolakan’ terhadap apa yang telah ditetapkan atau ditakdirkan Allah atas diri kita.
    Pernyataan “Mengapa harus saya, kok bukan orang lain,”  melukiskan dengan jelas tentang bagaimana sikap ‘penolakan’ kita terhadap ketetapan Allah. Yang kalau kita tafsirkan lebih jauh, konsekuensi dari pernyataan itu mengandung pengertian, seakan-akan, perlakuan Allah tidak adil terhadap diri kita. Atau bahkan, sangat boleh jadi, kita justeru ‘menuduh’ Allah telah berbuat semena-mena atas diri kita. Na’udzubillahi mindzalik!
      Hanya karena masalah ‘titipan’ penyakit menahun, telah dipanggil-Nya orang yang kita cintai lebih cepat, atau karena kita gagal menjadi orang kaya, lalu kita berprasangka buruk pada Allah. Padahal, jelas-jelas, di balik apa yang telah ‘dititipkan’ Allah pada diri kita itu, sangat boleh jadi justeru sebetulnya Allah hendak menyelamatkan kita dari jurang kerusakan yang lebih fatal lagi.
     Yang perlu kita ingat adalah, mempersangkakan Allah bersikap tidak adil pada diri kita, jelas nanti akan menjadi masalah besar. Sebab, yang kita prasangkai itu adalah Zat yang justeru telah menciptakan kita dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Wong kepada sesama makhluk saja, Allah tidak membolehkan kita berprasangka buruk. Bagaimana mungkin kok kita sampai berani-beraninya ‘menuduh’ Allah berlaku tidak adil pada diri kita.
    Berkaitan dengan prasangka itulah, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra  disebutkan bahwa, Rasulullah SAW bersabda: 

       “Allah telah berfirman: Aku selalu mengikuti sangka hambaKu. Dan Aku selalu menyertai dia, di mana ia ingat kepadaKu. Demi Allah, sungguh, Allah lebih senang menerima tobat hambaNya dari seseorang yang mendapat kembali barangnya yang telah hilang di hutan.
       Dan siapa yang mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadaNya sehasta, dan siapa yang mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan bila ia datang kepadaKu dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berjalan cepat.” (HR. Buchary, Muslim)
     
     Pertanyaannya sekarang ialah, patutkah kita membalas kebaikan Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara berprasangka buruk kepadaNya? ■

Senin, 12 Maret 2012

| Mengambil Ilmu Dari Pengalaman |

       Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Demikian salah satu kata-kata bijak yang sering kita dengar di lingkungan kita. Memang, jika seseorang mengalami suatu peristiwa, maka pengalamannya di dalam menjalani kejadian itu, sepatutnyalah untuk dijadikan sebagai pelajaran berharga. Hal itu penting untuk dilakukan, agar di dalam menjalani kehidupan ini, kita bisa semakin berhati-hati dan bersikap bijak.
   Akan tetapi, bagaimana jika kita mendengar pengalaman hidup orang lain? Apalagi, jika pengalaman itu merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan? Misalnya, kita mendengar pengalaman tentang seseorang yang pernah masuk penjara karena suatu perbuatan yang telah dilakukannya? Apakah yang akan kita lakukan ketika mendengar pengalaman tersebut? Apabila kita meremehkan orang tersebut, berarti kita bukanlah orang bijak yang bisa belajar dari pengalaman.
      Dalam hal ini, kita perlu menggaris bawahi, bahwa di dalam mengambil pelajaran dari pengalaman itu, kita tidak hanya melihat pengalaman diri sendiri. Namun, juga mengacu pada pengalaman hidup orang lain yang kita dengar atau kita ketahui. Dalam kenyataannya, kita hanya mau belajar dari pengalaman orang lain yang sifatnya mengenakkan. Misalnya, ada orang yang berhasil menjadi pengusaha yang kaya raya. Maka, kita pun terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. Tak ada rasa meremehkan orang itu, sebab ia telah berhasil menjadi pengusaha sukses.
        Berbeda halnya ketika kita mendengar ada seseorang yang miskin menjadi maling ayam, misalnya. Biasanya, terhadap kasus semacam ini, kita lebih banyak meremehkan orang itu daripada mau mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya.
      Pada tataran inilah, jangan sampai kita harus mengalami perjalanan hidup yang sama terlebih dahulu untuk bisa mengambil pelajaran di dalam kehidupan ini. Akan tetapi, bagaimana caranya agar pengalaman orang lain itu justru bisa menjadi ilmu yang berharga bagi diri kita? Yang perlu kita waspadai di dalam hal ini adalah, jangan sampai kita meremehkan orang lain karena pengalaman hidupnya. Sebab, boleh jadi kelak Allah akan memberikan kepada kita pengalaman yang serupa.

Mengambil Hikmah
        Oleh karena itulah, agar kita tidak mengalami perjalanan yang serupa, maka kita perlu mengambil hikmah dari pengalaman hidup orang lain. Apabila kita mampu mengambil hikmahnya, maka insya Allah kita akan dapat memaknai kehidupan kita sendiri secara lebih baik.
Di samping itu, jangan sampai kita merasa enggan untuk mendo’akan orang yang mempunyai pengalaman tersebut. Sebab, dengan izin Allah, kita telah mendengar pengalaman hidupnya, dan pada saat kita mendengarkan pengalamannya dan memperoleh hikmah dari perjalanan hidupnya,  sejatinya ia telah menjadi guru kita. Oleh karena itulah, jangan sampai kita bersikap su’ul adab dengan cara meremehkannya.
      Dalam kaitannya dengan hal ini, ada sebuah kisah. Seorang tokoh sufi mengisahkan perjalanan hidupnya kepada muridnya. Ia menceritakan bahwa ia pernah mengalami kondisi yang sangat minim. Sampai-sampai ia memakan kulit semangka yang sudah tergeletak di tanah. Ia mengambil kulit semangka yang tampak hina itu, mencucinya hingga bersih dan memakannya.
       Kisah sang tokoh sufi itu bukanlah dengan maksud untuk menghinakan dirinya. Begitu pula sang murid, tak ada di dalam hatinya terbersit niat untuk meremehkan gurunya yang pernah memakan kulit semangka yang sudah tergeletak di tanah itu. Akan tetapi, di dalamnya terkandung pelajaran yang sangat berharga. Bahkan bagi kita yang hanya mendengar lewat penuturan orang lain, juga mengandung pelajaran. Sang tokoh sufi itu, telah mengangkat derajat kulit semangka yang hina itu menjadi sebuah rezeki yang berharga.
      Demikianlah sepatutnya kita yang hidup di dunia ini. Sudah seyogyanyalah kita belajar menjadikan sesuatu yang hina menjadi terangkat derajatnya ke tingkat yang lebih tinggi. Secara singkat, makna dari semua ini adalah, mari kita belajar agar di dalam bersikap, kita bisa membawa keselamatan bagi orang lain.
       Kira-kira seperti itulah kita bersikap di dalam memaknai pengalaman orang lain yang kita dengar. Jangan terpancang pada lika-liku pengalaman yang diceritakan. Tetapi, carilah substansinya, agar menjadi ilmu yang bisa kita praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari.***

Minggu, 11 Maret 2012

| Berbagi dengan warga NTB & NTT |

BANJIR BANDANG DI NTB & GIZI BURUK DI NTT


Kondisi Banjir Bandang di Kabupaten Bima (2012)
Hujan deras yang mengguyur Indonesia beberapa hari terakhir, membuat sejumlah daerah tergenang banjir. Ribuan warga di Kota Mataram dan di wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, harus merugi karena banjir menggenangi rumah dan sawah mereka.
Hujan deras yang terus mengguyur Bima dalam beberapa hari terakhir, membuat ratusan rumah di Kecamatan Woha dan Belo, tergenang. Banjir juga menggenangi ruas jalan sehingga aktivitas warga terganggu. Banjir di daerah tersebut diakibatkan meluapnya sungai di Desa Naru, Woha dan Sungai Pela Parado. Air sungai meluap lantaran tak mampu menampung limpahan air hujan yang turun sepanjang malam. Banjir bertambah parah menyusul jebolnya tanggul sungai di Desa Naru, Kecamatan Woha.
Sementara, ratusan rumah di sejumlah kelurahan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), tergenang air Kali Jangkuk yang meluap, Sabtu (10/3). Selain merendam rumah warga, luapan sungai yang deras juga menghanyutkan ratusan pohon pisang siap panen milik warga yang ditanam di pinggiran Kali Jangkuk.
Banjir bandang membuat jalan di Bima menjadi rusak (2012)
Ketika tim GPKB berkunjung ke lokasi banjir, rumah warga yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Jangkuk dan tergenang air tersebar di beberapa kelurahan seperti di Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang; Lingkungan Pejeruk Abiyan dan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan. Ketinggian air yang menggenangi rumah warga mencapai sekitar satu meter. Meluapnya air Kali Jangkuk disebabkan hujan deras yang melanda Kota Mataram sejak Jumat (9/3) malam hingga Sabtu (10/3) siang, serta akibat air kiriman dari Kabupaten Lombok Barat yang dilintasi oleh DAS Kali Jangkuk.
Warga di bantaran Kali Jangkuk yang rumahnya tergenang, tampak sibuk menyelamatkan barang-barang berharga. Sementara itu, warga lainnya yang selamat dari banjir membantu mengevakuasi barang.

Serahkan Bantuan
GPKB Serahkan Bantuan (2012)
Sementara itu, pada hari Sabtu – Senin (10-12/3/2012) lalu, Tim GPKB yang terdiri dari 6 orang menyerahkan bantuan untuk korban bencana banjir bandang yang menimpa warga Kota Mataram dan warga Bima, Nusa Tenggara Barat. Bantuan yang diserahkan dari hasil sumbangan para Donatur Cinta yang dihimpun oleh GPKB tersebut, antara lain berupa: makanan, pakaian, selimut, obat-obatan dan uang tunai masing-masing sebanyak 5 juta rupiah di dua lokasi secara terpisah. Bantuan diserahkan kepada Posko Penanggulangan Bencana yang ada di dua lokasi tersebut.
Selain itu, tim GPKB juga menyerahkan bantuan berupa uang tunai kepada 4 KK penderita gizi buruk yang terdapat di wilayah Pulau Palue, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masing-masing KK, selain diberi bantuan berupa dana sebesar 5 juta rupiah untuk modal usaha, juga diberi makanan instan yang dapat dipergunakan untuk keperluan peningkatan gizi bagi anak mereka yang terkena penyakit gizi buruk. Adapun ke 4 KK yang menerima bantuan modal usaha itu antara lain: Keluarga  Norman Abiyasa (37), Margareta Paso (28), Imanuel Pala (41) dan Siti Fatimah (44).
Penerima Bantuan modal usaha utk keluarga gizi buruk (2012)
Kepada Tim GPKB, Ibu Siti Fatimah, yaitu salah satu penerima bantuan berupa modal usaha untuk keluarga yang menderita gizi buruk di Flores mengatakan, “Atas nama penerima bantuan modal usaha, kami menyampaikan ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kaum dermawan yang telah membantu kami. Mohon doanya, mudah-mudahan, modal usaha yang diberikan kepada kami ini, bisa meningkatkan kesejahteraan hidup kami di masa yang akan datang. Semoga amal jariyah para donatur yang dihimpun oleh GPKB mendapat balasan yang lebih dari Allah.” [*]



BERITA DALAM FOTO


Penyerahan bantuan makanan (2012)

pendataan bantuan penting
dilakukan untuk mencegah
terjadinya penyelewengan 
















 
Bantuan berupa makanan anak-anak dan obat-obatan (2012)



Dalam setiap kesempatan, GPKB
 berusaha untuk selalu memperhati-
 kan soal makanan utk anak-anak
 korban bencana yg seringkali lupa
 diperhatikan ....

Kesibukan di posko bantuan di NTB (2012)


 dalam setiap bencana, bantuan berupa mie
 merupakan sebuah pilihan yg lebih praktis
 dan bisa cepat dipergunakan bagi para
 korban.









Kepada para Donatur Cinta yang terhimpun di dalam GPKB yang tak bersedia namanya disebutkan tapi aktif mengirimkan tanda cintanya melalui rekening GPKB, melalui berita ini, para korban banjir bandang di NTB dan penerima bantuan modal usaha bagi keluarga gizi buruk yang ada di NTT menyampaikan ucapan terima kasih. Jazakumullaah khairan katsiran. Semoga amal baik bapak-ibu dicatat oleh Allah sebagai amal jariyah. Berita ini sekaligus sebagai laporan pertanggungjawaban atas kegiatan tersebut. (TIM GPKB/2012)


LAPORAN KEUANGAN
KEGIATAN PENYERAHAN BANTUAN
DI NTB & NTT
( MARET 2012 )


NO
BENTUK SUMBANGAN
NILAI SUMBANGAN
TOTAL SUMBANGAN
LOKASI DISTRIBUSI
01.
Barang yang terdiri dari:
· Makanan: untuk orang dewasa dan untuk anak-anak
·  Minuman: air minum mineral dan susu untuk anak
·  Obat: kapsul, tablet dan cair
· Pakaian dan Selimut
·Keperluan untuk pengungsi kaum perempuan

Uang tunai di 2 lokasi :
Kota Mataram
Kabupaten Bima


Rp. 3.500.000.00,-

Rp. 2.500.000.00,-

Rp. 4.100.000.00,-
Rp. 3.000.000.00,-
Rp. 1.500.000.00,-



Rp. 5.000.000.00,-
Rp. 5.000.000.00,-

MATARAM:
Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang; Pejeruk Abiyan dan Kebon Talo, Kelurahan Ampenan Utara, Kec. Ampenan

BIMA:
Kecamatan Woha dan Belo



Rp. 24.600.000.00,-






02.
Barang yang terdiri dari :
Makanan, minuman berupa susu dan vitamin dengan nilai:
@ Rp. 1.500.000.00 x 4 KK

Uang tunai untuk modal usaha
@ Rp. 5.000.000.00,- x 4 KK



Rp.  6.000.000.00,-


Rp.20.000.000.00,-


Pulau Palue, Provinsi Nusa Tenggara Timur



Rp. 26.000.000.00,-



JUMLAH TOTAL


Rp. 50.600.000.00,-







Rabu, 07 Maret 2012

| Baru Belajar, Sudah Merasa Jadi Guru |

        Saya ingat sebuah kisah lucu pada masa saya masih baru duduk di bangku kelas tiga SMP di sebuah sekolah swasta di Yogyakarta. Pada waktu itu, saya terhitung masih baru dalam mengenal ajaran agama yang lebih luas lagi. Terutama yang berkaitan dengan syari’at dan ilmu fiqih. Setiap saya memperoleh suatu pengetahuan baru dalam hal ilmu fiqih, maka saya langsung mengirim surat kepada orangtua saya guna menyampaikan pengetahuan yang baru saya peroleh itu.
            Saya masih ingat bagaimana perasaan saya ketika saya menulis surat kepada orangtua saya saat itu. Di dalam hati, saya merasa bahwa saya yang belajar di sekolah agama, baru saja mengetahui hal itu. Apalagi orang tua saya yang tidak pernah mengenyam sekolah agama. Pasti beliau lebih tidak tahu lagi. Begitulah kira-kira yang ada di benak saya pada saat itu.
            Masih di dalam hati saya, ketika menulis surat untuk orangtua saya itu, saya merasa bahwa pengetahuan saya itu sangat berharga. Sehingga, sifatnya menjadi sebuah maklumat. Bahwa orangtua saya harus mengerjakan apa yang telah saya sampaikan itu. Sebab, kalau tidak dilaksanakan, maka bisa mengakibatkan dosa. Demikianlah kira-kira perasaan yang menyertai setiap kalimat yang saya tuliskan untuk orangtua saya waktu itu.
            Hingga suatu ketika, tersebar kabar yang menghebohkan di seluruh wilayah negeri ini. Berbagai macam selebaran saya peroleh bersama teman-teman. Di dalam selebaran itu, tertulis berbagai macam merek produk yang mengandung lemak babi dan unsur-unsur yang diragukan kehalalannya.
Ketika saya dan teman-teman membaca selebaran itu, kami sepakat untuk ramai-ramai mengirimkan selebaran itu untuk orang tua kami masing-masing. Maksudnya, tentu saja agar orangtua dan keluarga kami tidak membeli barang-barang yang mereknya tertera di dalam selebaran tersebut.

Merasa Lebih Tahu
            Di tengah hiruk-pikuk kami membicarakan tentang selebaran tersebut, tiba-tiba ada kawan yang berceletuk, bahwasanya ia mendengar ada beberapa produk yang juga haram, namun tidak tertulis di dalam selebaran tersebut. Alhasil, kami segera mencari pulpen dan menambahkan di dalam selebaran itu produk apa saja yang disebutkan oleh kawan kami itu. Kawan kami yang memberi kabar itu juga ikut menulis di dalam selebarannya. Entah dari mana ia mendengar barang-barang tambahan yang diharamkan tersebut.
       Belakangan, setelah saya melampaui bangku kuliah, saya pulang menemui orangtua saya. Dalam perjumpaan kami itu, terungkaplah kisah tentang selebaran yang saya kirimkan itu. Namun, kenangan yang muncul pada saat itu sarat dengan peristiwa yang menggelikan, sehingga kami berkisah sambil tertawa.
Menurut yang saya dengar dari keluarga saya, ternyata di kampung saya pun tengah santer membicarakan hal yang sama. Sehingga, ketika keluarga saya menerima selebaran itu, tanpa pikir panjang lagi, mereka membuang semua barang-barang yang tersedia di rumah, yang mereknya tertera di dalam selebaran tersebut. Termasuk yang dibuang itu adalah beberapa kilogram gula pasir dan minyak goreng.
         Kami saling berkisah sambil tertawa geli. Saya sendiri mentertawakan kebodohan saya karena telah mengirim selebaran tanpa mengetahui asal-usulnya dan bahkan menuliskan sendiri beberapa catatan tambahan di dalamnya. Setelah saya mendalami ilmu agama lebih jauh lagi, saya jadi tertegun sendiri.
Ternyata, saya telah banyak melakukan su’ul adab terhadap orangtua saya. Saya menggurui mereka, padahal mereka adalah guru saya. Bayangkan saja, ketika saya belum bisa berbicara, belum bisa berjalan dan lain sebagainya, merekalah yang melatih saya dengan mengajak saya berbicara dan memegang tangan saya untuk belajar berjalan.
          Menyadari akan hal itu, saya akhirnya jadi merasa malu terhadap diri saya sendiri dan memohon ampunan Allah. Ternyata, tanpa sadar, saya merasa sudah menjadi guru terhadap guru saya sendiri. Padahal, aslinya, saya baru saja belajar dan bahkan saya sendiri belum mengetahui substansi dari apa yang sedang saya pelajari. Astaghfirullahal ’azhiim.
         Pada tataran inilah, ketika kita berbicara kepada orang lain, maka jangan pernah kita merasa bahwa kita lebih tahu dari orang yang mendengarkan kita. Sebab, boleh jadi, orang yang mendengarkan kita itu jauh lebih bijak dan lebih mengetahui daripada diri kita sendiri. Yang membuat kita tak bisa melihat sikap bijak orang lain adalah, karena kita kerap kali hanya ingin mendengarkan diri sendiri. Kita ingin agar orang lain mengikuti seperti apa yang kita harapkan. Hal inilah yang justru menjadi hijab di dalam hati kita. Dan hal ini pulalah yang acapkali membuat kita merasa lebih pandai dari orang lain. Padahal, aslinya, kita sama-sama sebagai orang yang sedang belajar. Belajar tentang memaknai kehidupan di muka bumi ini.***

| Punya Ilmu, Belum Tentu Bisa Praktek |

    Suatu ketika, seorang ustadz menolak permintaan warga untuk mengisi sebuah pengajian di kampungnya. Menurutnya, ia tak layak menyuruh orang berbuat baik, jika keluarganya sendiri belum betul-betul melakukan perbuatan baik dan mengikuti syari’at Allah secara benar. Sebagian orang yang mengetahui keadaan keluarga sang ustadz kemudian manggut-manggut seraya berkata, ”Pantas saja sang ustadz tidak mau memberi ceramah. Sebab, keluarganya sendiri susah ia ceramahi.”
   Sekilas, tak ada yang keliru dari komentar tersebut. Juga, tak ada yang keliru dari keputusan sang ustadz ketika menolak untuk memberi ceramah di depan masyarakat. Akan tetapi, makna apa yang kita petik dari kejadian tersebut?
   Dalam cerita yang berbeda, ada seorang guru agama yang tampaknya memahami ajaran agamanya dengan baik. Ia kerapkali menyampaikan ajaran tentang akhlak kepada murid-muridnya. Namun, ternyata sang guru juga melanggar ajaran tentang akhlak yang ia berikan kepada muridnya. Mendengar kasus tersebut, sebagian orang ada yang berkata, ”Padahal guru agama, tapi kenapa akhlaknya tidak mencerminkan ajaran di dalam agamanya sendiri?”

Makna Peristiwa
Sama seperti sebelumnya. Tak ada yang salah dari komentar tersebut. Akan tetapi, tak ada gunanya berkomentar, jika tujuannya bukan untuk kebaikan. Persoalannya adalah, makna apa yang dapat kita petik dari peristiwa tersebut? 
Pertama, sejatinya, tak ada orang yang bisa mempraktekkan ilmunya tanpa adanya pertolongan Allah. Alhasil, jika kita melihat ada orang lain belum bisa mempraktekkan ilmu agama yang dimilikinya, maka jangan sampai kita mencela atau meremehkannya. Sebaliknya, do’akanlah ia agar dapat memperoleh pertolongan Allah, sehingga ia bisa mempraktekkan ilmu yang dimiliknya itu.
          Kedua, di dalam menuntut ilmu, jangan sampai kita seperti orang yang mengejar layang-layang putus, tapi tak berhasil memperoleh layang-layangnya. Sudahlah kita lelah mengejar, namun ketika kita tarik benangnya, kita justru hanya mendapatkan benangnya saja. Sedangkan layang-layangnya sendiri sudah rusak dan tak bisa diambil. Maksudnya, jangan sampai kita hanya rajin menumpuk ilmu, tapi tidak mau belajar mempraktekkannya. Sebab, akibatnya adalah, kita tetap saja tidak memperoleh sesuatu yang berarti.
Orang yang bijak justru berkata, lebih baik engkau memiliki sedikit ilmu, namun engkau praktekkan dengan sungguh-sungguh, sehingga ilmu yang engkau miliki itu benar-benar berarti. Misalnya, kita hanya tahu tentang ilmu menanam pohon semangka. Namun, kita menanam berbagai macam pohon. Maka hasilnya akan berbeda jika kita hanya menanam pohon semangka dan kemudian menekuninya dengan sungguh-sungguh. Sebab, kita memiliki ilmunya.

Jangan Menghakimi
Ketiga, jangan cepat-cepat menghakimi perjalanan hidup seseorang. Sebab, setiap perjalanan hidup manusia itu merupakan takdir Tuhan yang harus ia lalui. Dalam hal ini, sebetulnya, Allah sudah memberikan i’tibar kepada kita, agar tidak menjadi hamba yang senang menghakimi perjalanan hidup orang lain. Cobalah kita perhatikan, bagaimana perjalanan hidup para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah di muka bumi ini.
Nabi Adam asw, misalnya, beliau menjadi hamba yang melakukan perbuatan dosa dan mengakibatkan beliau diusir dari surga. Hal itu merupakan i’tibar bagi kita, sehingga kita tidak meremehkan orang yang berbuat dosa. Sebab, siapa tahu Allah menggerakkan hatinya untuk bertaubat dan kita tidak tahu akan hal itu. Sementara kita masih meremehkan orang, boleh jadi ia sudah mendapatkan ampunan Allah, sehingga kita sendirilah yang justru memanen dosa.
Begitu pula dengan Nabi Luth asw. Istri beliau tidak mau mengikuti ajaran yang beliau sampaikan. Hingga akhirnya, istri bersama umat beliau yang ingkar mendapat kutukan dari Allah. Hal ini merupakan i’tibar, jika kita melihat istri seorang ulama, misalnya, melakukan perbuatan yang melanggar hukum agama, maka kita tidak harus meremehkannya, baik terhadap sang ulama, maupun terhadap istri dan keluarganya.
Masih banyak contoh lainnya. Misalnya, ada Nabi Allah yang terbunuh. Hal itu untuk menjadi i’tibar bagi kita agar bisa memaklumi ketika keluarga atau tetangga kita mati terbunuh. Sampai dengan melalui Nabi Muhammad SAW pun, Allah juga memberikan i’tibar kepada manusia. Rasulullah SAW itu merupakan kekasihNya. Namun, toh masih ada dari kalangan keluarga beliau yang tetap ingkar kepada ajaran yang beliau sampaikan. Meskipun kekasih Allah, namun beliau toh juga pernah diludahi orang, dilempari batu dan dihina orang-orang yang tidak mau mendengarkan ajaran Islam. Hal itu menjadi i’tibar bagi kita, bahwasanya, kita tidak sepatutnya meremehkan orang lain yang mengalami nasib seperti itu. ***

Selasa, 06 Maret 2012

| Ilmu Datang, Hati Jadi Terang |

  Adalah si Fulan, seorang mahasiswa yang sangat hobby membaca. Segala macam bacaan dilahapnya. Mulai dari koran, majalah, komik, novel, hingga buku-buku ilmiah. Ke mana pun ia pergi, ia selalu membawa buku. Baginya, selain bayangannya, buku adalah termasuk sahabatnya yang paling setia.
    Karena hobbynya membaca, maka tak heran jika ia memiliki wawasan yang cukup luas. Terutama jika ia tengah membahas tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan apa yang sedang atau telah dibacanya. Ia selalu bersuara atau angkat bicara dalam setiap perdebatan. Tak ada yang tidak mengenal dirinya. Terutama di kalangan anggota kelompok diskusinya. Setiap ada orang yang menyanggah pendapatnya, ia selalu mempunyai jawaban untuk menangkisnya. Orang-orang sering mengacungkan jempol kepadanya seraya berkata: ”Hebat!”.
     Fulan memang pandai bersilat lidah. Setiap forum diskusi selalu ia isi dengan perdebatan seru. Dengan sangat sistematis, ia dapat mementahkan pendapat-pendapat orang lain.
Kata-katanya yang menggebu-gebu bak sirine kematian bagi pendapat orang lain. Para dosennya pun salut kepadanya, karena semangatnya yang membara di dalam menyelami berbagai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, Fulan hanya tampak subur dalam ide-ide dan pemikirannya.
Sebaliknya, hatinya justru merasa gersang dan hampa. Ia melalui hari-harinya tanpa ada rasanya. Apakah manis, pahit, getir atau hambar. Ia bahkan tak tahu apakah hari-harinya itu punya rasa ataukah tidak. Ia menjalani hari-harinya tanpa kehidupan dalam hatinya.

Memunculkan Ketidaktenangan
       Hati yang tidak hidup adalah hati yang dipenuhi oleh berbagai rasa yang memunculkan ketidak-tenangan di dalam hati itu sendiri. Misalnya, merasa gusar, gundah, ingin selalu menang, merasa dirinya lebih pandai dan hebat, merasa orang lain lebih bodoh daripada dirinya, meremehkan kemampuan orang lain dan lain sebagainya.
       Alhasil, ilmu yang dimiliki oleh si Fulan itu justru tidak mencerahkan hatinya. Padahal, sejatinya, ilmu itu bisa membawa pencerahan hati terhadap orang yang memilikinya. Namun, mengapa si Fulan mengalami fenomena yang berbeda? Penyebabnya adalah, karena ilmu itu hanya berdiri saja di luar pintu hatinya.
Yang bisa membuat ilmu itu dapat membuka pintu hati dan masuk ke dalamnya untuk mencerahkannya adalah kesadaran. Apabila kesadaran muncul, maka ilmu akan menerangi hati dan tampaklah apa yang tadi belum terlihat, yakni kepahaman.
     Dengan kata lain, meskipun si Fulan itu memiliki ilmu, namun ia belum memiliki kesadaran atas dirinya, sehingga ia sendiri belum bisa memahami hakikat ilmu yang dimilikinya. Seorang tokoh sufi bernama Ali Al-Khawwas berkata, bahwa ilmu semacam itu sebetulnya bukanlah ilmu. Melainkan hanya wawasan yang diperoleh dari hasil pengetahuannya terhadap pendapat orang lain, yakni melalui bacaan-bacaannya tadi.
     Pada konteks inilah, pada dasarnya, kita belum tahu apa-apa, meskipun ilmu kita segudang, jika kita belum memiliki sebuah kesadaran diri. Sedangkan kesadaran diri itu sendiri hanya bisa kita peroleh, jika kita sudah dapat memfungsikan rasa yang kita miliki. Sehingga, kita bisa mengetahui bagaimana rasanya jika kita mengeluarkan satu patah kata saja.
     Barangkali, kita sudah akrab dengan pepatah yang mengatakan bahwa diam itu emas. Sejatinya, bukan pada aktivitas diam itu, seseorang menjadi terangkat derajatnya. Namun, jika seseorang mampu memfungsikan rasanya di dalam diamnya itu – sehingga ia bisa memaknai rasa yang ada di dalam diamnya itu – maka hal itulah yang bisa mengangkat derajatnya. Bukankah ada orang yang diam, namun di dalam hatinya ia sibuk berbicara negatif?
Alhasil, pada dasarnya, ilmu itu membawa pada hati  yang terang, jika disertai dengan kesadaran diri pada diri orang yang bersangkutan. Misalnya, sadar bahwa dirinya adalah makhluk, sadar bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa melainkan atas pertolongan Allah, sadar bahwa sejatinya hidup ini hanya tempat untuk menumpuk bekal di hari esok.
     Apabila kesadaran ini sudah muncul di dalam diri kita, maka kita akan semakin jadi paham, bahwa sesungguhnya, tak ada celah di dalam setiap nafas kehidupan kita ini tanpa disertai oleh kasih sayang Allah. Alhasil, kita pun jadi semakin memahami tentang di mana letak kekeliruan kita dan apa saja yang perlu kita perbaiki di dalam menapaki hidup di dunia ini. Pada tataran inilah, kita baru bisa mempraktekkan bagaimana cara hidup sebagai seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhannya. Bukan sebagai abdi yang ingin menjadi tuan.***